Selasa, 14 Februari 2017

HATI ; AturanNya terhadap kaidah logis manusiawi



Manusia itu rumit,

Apalagi tentang rasa,

Menangguhkan tinggi sampai lupa hakikat.
Padahal di kenyataan manusia itu rendah, hanya kumpulan nyata dari materi kimiawi dan biologis yang mengatasnamakan akal sebagai pijak tertinggi. Lalu apa?

Ingin terbang sampai ke awan? Sudah mampu, pendaratan Neil Amstrong bertahun silam sudah jadi pembuktian. Melampaui kaedah logis? Sudah mampu, hanya modifikasi ‘sederhana’ dari fisika material sudah tampak berbicara melalui angin yang orang masa lampau katai bualan. Mengatur jalan hukum alam? Sudah mampu, sebut saja bagian dari kloning sampai rekayasa materi genetika.

Poinnya adalah, manusia yang katanya di pegang kendali oleh neurotransmitter berevolusi menjadi ‘spesies’ dengan potensi yang melampaui kaidah newton. Tubuhnya tak berevolusi banyak, namun akal miliknya selalu dinamis ke arah metafora sempurna.

Mengerikan.

Bayangkan saat akal itu diibaratkan serangga dengan chip matika super yang akan terus menggerogoti hingga ‘over’. Mencangkok organ sendiri pun nantinya di paten sebagai modernisasi. Bukan, itu bukan hal mustahil, karena manusia selalu melampaui apa yang di patokan sebagai taraf ‘kenormalan.’

Untuk itu kadang bagian terpenting di tubuh yang secara tak konkrit dalam wujud adalah satu-satunya yang murni lagi suci.

Kontrol pusat, semesta maupun reaksi kimia milik pribadi.

Apa namanya? Hati, kalbu, pengibaratan segumpal daging yang tak senyata wujud gas.

Dia ajaib, selalu tahu kapan manusia menyalahi hakikat dirinya diciptakan ataupun tahu kapan manusia menemukan arti nyata dari hidup. Dia menjadi satu-satunya bagian yang jauh di lubuk dasar selalu dalam kaidah ‘benar’

Tapi terkadang manusia angkuh, terlalu sombong merasa tinggi, lupa bahwa akal pikiran yang mereka bawa sebagai pondasi hanya serangkaian reaksi kimiawi milik kosmis. Bukan spiritual.

Sebut saja contoh kecil.

Pernah tidak saat mengikuti hasrat namun dahaga dari puas tak pernah terpenuhi?

Dengan konsep sesederhana memenuhi hasrat manusiawi ;
Yang katanya berpuas dengan makanan membuat bahagia, tapi kenyataan? Tidak sedikit situs dieting yang dibanjiri pengunjung internet. Yang katanya berpuas dengan rekreasi, tapi kenyataan? Rasanya sungguh tak nikmat bila pergi jauh dari rumah. Yang katanya berpuas dengan cinta dan hasrat permen cokelat, tapi kenyataan? Tak sedikit kasus depresi hingga siksa batin oleh anak remaja yang menyalah artikan hubungan. Yang katanya prioritas utama adalah uang, tapi kenyataan? Kenapa malah yang terkaya ingin hidup sederhana dengan berserak donasi kemana-mana.

Karena semuanya menyalahi HATI. Berpikir bahwa dunia adalah pemuas yang membawa arti bahagia namun hanya empedu yang berpoles madu.

Manisnya sebentar, selebihnya? Rasa kosong, hampa sampai menyesal.

Sekali lagi tanyakan, lalu apa? Apa sebenarnya arti kehidupan ini?

Jika pemuasan dunia hanya sementara, jika bentukan rasa hanya serangkaian reaksi kimia?

Untuk itu hati akan menjawab.

“Tahukah kamu wahai manusia? Kenapa tak pernah rasa ketenangan hadir dariku padamu? Karena akal dan hasratmu hanya untuk MANUSIA ; menyenangkan manusia, dipuji manusia, terlihat baik dalam pandangan manusia, selalu untuk manusia! Kapan ada ruang kau melakukan sebesar zarah saja perbuatan untuk pencipatku? TUHAN mu? Jika kau haus dengan pencitraan dunua? kemampuan darimu baik itu akal yang kau letakan melebihi puncak olympus tidak akan sanggup mengampu aku yang suci jika masih kotor oleh hasrat.”

Untuk itulah manusia di tuntun.
Oleh aturan yang dibuat oleh DIA yang bukan manusia.

Lepas dari subjektifitas yang menjerumus, lepas dari kepenatan akal yang menjebak.

Tuhan, agama, akidah, syariat.

Yang mengajarkan dari arti kebahagian sempurna dengan ikhlas.

Berkorban lembar uang untuk penampilan duniawi, tujuan? Dipuji manusia. Pernah terlintas dibenakmu bahwa Tuhan kecewa? Takutnya tidak.

Berkorban waktu dan finansial untuk foya-foya duniawi, tujuan? Hasrat manusia. Pernah terlintas dibenakmu bahwa Tuhan ingin lihat kau berbagi dengan saudara mu yang tak mampu? Takutnya tidak.

Berkorban sunnah, berkorban iman, berkorban syariat untuk tujuan utama yang menyalahi akidah, tujuan? Pengakuan manusia. Pernah terlintas dibenakmu bahwa ridho kah Tuhan?  Takutnya tidak.

Jadi jangan tanyakan kenapa hati gersang, kenapa setelah berkecukupan selalu rasanya ada yang kurang, kenapa kebahagiaan tak pernah dirasa ringan.

Sedang sang pemilik HATI sudah jauh kau taruh di pioritas terbawah. Lantas bagaimana aturannya akan menuntunmu? Jika yang diangkuhkan adalah hasrat dan pola pikir?

Maka sudah waktunya untuk kembali, kembali pada AturanNYA.

milikNya, milik Dia yang mencintai dan mengingat mu di setiap waktu (meski engkau lupakan) yang mengawasi dan melihatmu di setiap waktu (meski engkau abaikan).

Dia hanya menunggu,

Kamu yang untuk meminta,

Agar dapat dikejar dalam rengkuh,

Dengan kebahagiaan Baqa sang pemilik Hati.

“Allah ta’ala berfirman : Aku sesuai prasangka hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingatKu, jika ia mengingatKu di kala sedang sendirian, aku akan mengingatnya dalam diriKu, jika ia mengingatKu di suatu kumpulan, aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu (kumpulan malaikat), Jika ia mendekat pada Ku sejengkal, Aku mendekat padanya sehasta, jika ia mendekat pada Ku sehasta, Aku mendekat padanya sedepa, jika ia mendatangi Ku dengan berjalan (biasa), maka aku mendekat padanya dengan berjalan cepat.”—HR.Bukhari

Dari Andi Priscillia Alqodry,
Yang masih belajar caranya untuk ikhlas.

3 komentar:

  1. I love you ukhti 😍😍👍

    BalasHapus
  2. Diriku sudah lama tidak mengisi blog, sampai sampai lupa pakai email apa dan kata sandinya apa wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Luph u too 😍 hayuk produktif nulis lagi,komunikasi hati lewat tulisan 😊

      Bikin blog baru ajaa 😋

      Hapus