Jangan
salahkan Anatomi,
Dia hanya
subjek dari bongkahan bernyawa, yang dicerai-berai cuma untuk mengajari mu arti
dari kata bersyukur.
Jangan
salahkan nomina anatomica,
Dia hanya
struktur susunan vocal maupun konsonan di per cantik, yang ingin dikenal sebelum
sayang, meski terkadang dia membuat lidah sampai percabangan saraf mu terbelit di
saat OSPE.
Jangan
salahkan Histologi,
Dia hanya
eksistensi yang kau anggap butiran debu walaupun telah ikut melengkapi hidupmu
yang sempurna, yakin lah dia merasa tersanjung meski hanya dilirik dari lensa
objektif lalu kau kira ukiran bulan merah muda. Karena hakikat dunia memang
begitu, terkadang air susu yang dibalas air tuba bukan hanya sekadar bualan setelah
semua yang dilakukan epitel ataupun jaringan ikat di sepanjang perjalanan sekon
yang kau lalui.
Jangan
salahkan Fisiologi,
Dia hanya
skenario turunan ilahi yang membuatmu tetap bisa membaca tulisan konyol ini,
walaupun tak ikut masuk kedalam syarat tindak pidana yang dituduhkan niat ingin
menjatuhkan mu, namun tetap saja kau salahkan saat nilai MCQ anjlok hingga
remedi.
Jangan
salahkan Imunologi,
Dia hanya
prajurit minions milikmu yang sangat sayang kepada tuannya seperti Kevin, Bob,
atau Stuart kepada Gru. Karena sungguh, yakin lah bahwa sel mast tak bermaksud
mengkhianati jika saja kromosom tak memerintah IgE sedemikian rupa.
Jangan
salahkan Patologi,
Dia hanya
ingin memperingatkan mu bahwa dunia gemerlap munafik ini tak pernah dipenuhi
serbuk peri yang dipercaya membawa hidup abadi, melainkan pengap akan wabah dan
penyakit yang menekan ledakan populasi.
Masih
begitu banyak penghuni standar kompetensi FK selain mereka yang sering dikutuk
tanpa terbukti melakukan tindak pidana, padahal jika saja salah satu darinya
berniat membelot malam ini, bisa jadi esok pagi kasur empuk sudah berganti
dengan bangsal rumah sakit.
Sesederhana
itu. Dan ya, yang paling tahu itu kamu,
Calon
dokter masa depan yang masih senang mengembara
mencari jati diri,
Tak
berhenti mengeluhkan perahu masa depan yang terus berlayar jauh ke ujung
cakrawala.
FK itu tak
sepahit kopi kental langganan supir truk ekspedisi, tak juga tak semanis madu Teje*
yang sekarang kaya varian rasa. Dia asam manis ibarat rujak, dengan sensasi nano-nano
yang sempurna jika memahami citarasa buah, kacang dan cabai yang berpadu epik ala takaran si
mamang.
Tapi kalau
sedari awal sudah tak menyukai buah, Itu urusan mu dengan selera, kenapa memilih
ikut temanmu beli rujak dibanding makan batagor di alun-alun?
Sudah
kepalang jatuh untuk memilih, adalah rujak yang dimakan paksa atau malah terbuang
ke tempat sampah. Ingin barter dengan es teh? Sayang sekali tidak ada mamang yang
mau jualan terbeli tapi minta dikembalikan, kuah kacang tak semudah itu di urai
kembali menjadi uang lima ribu setelah bercampur dengan potongan buah dan bekas
liur mu.
Maka poin
tantangan berkomitmen adalah tentang bagaimana pandangan terhadap FK mu yang
sesempit kolong tempat tidur itu diperluas selebar kolong jembatan, tak apa
mulai dari tempat yang kumuh dulu, siapa tahu ujung jembatannya adalah Tower of
London tempat penyimpanan mahkota ratu Elizabeth.
Karena
perjalanan yang dimulai dengan keikhlasan beserta garis finish yang pasti, akan
membawamu menuju pulau impian.
Meski
diterpa badai topan ataupun kumpulan gagak yang curang merebut bekal
perjalananmu, niscaya menyerah akan terasa lebih pahit dibanding terus melaju.
Karena itu, jadikanlah dia alasan solid untuk menumpas habis rasa pengecut mu
untuk terbang menyentuh langit.
Namun
ingatlah untuk jangan pernah lupa menikmati setiap perhentian yang disinggahi
dalam perjalananmu dengan sepenuh hati, karena disitu lah kau akan menemukan hal-hal yang
lebih jauh lebih berharga dibanding ‘cetak dua huruf konsonan’ di depan nama
yang kau cari.
Dari Andi
Priscillia Alqodry,
Yang sedang
ngalong ditumpas serdadu referat beserta antek-anteknya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar