Minggu, 06 Agustus 2017

FK dan Kamu




Jangan salahkan Anatomi,
Dia hanya subjek dari bongkahan bernyawa, yang dicerai-berai cuma untuk mengajari mu arti dari kata bersyukur. 

Jangan salahkan nomina anatomica,
Dia hanya struktur susunan vocal maupun konsonan di per cantik, yang ingin dikenal sebelum sayang, meski terkadang dia membuat lidah sampai percabangan saraf mu terbelit di saat OSPE.

Jangan salahkan Histologi,
Dia hanya eksistensi yang kau anggap butiran debu walaupun telah ikut melengkapi hidupmu yang sempurna, yakin lah dia merasa tersanjung meski hanya dilirik dari lensa objektif lalu kau kira ukiran bulan merah muda. Karena hakikat dunia memang begitu, terkadang air susu yang dibalas air tuba bukan hanya sekadar bualan setelah semua yang dilakukan epitel ataupun jaringan ikat di sepanjang perjalanan sekon yang kau lalui.

Jangan salahkan Fisiologi,
Dia hanya skenario turunan ilahi yang membuatmu tetap bisa membaca tulisan konyol ini, walaupun tak ikut masuk kedalam syarat tindak pidana yang dituduhkan niat ingin menjatuhkan mu, namun tetap saja kau salahkan saat nilai MCQ anjlok hingga remedi.

Jangan salahkan Imunologi,
Dia hanya prajurit minions milikmu yang sangat sayang kepada tuannya seperti Kevin, Bob, atau Stuart kepada Gru. Karena sungguh, yakin lah bahwa sel mast tak bermaksud mengkhianati jika saja kromosom tak memerintah IgE sedemikian rupa.

Jangan salahkan Patologi,
Dia hanya ingin memperingatkan mu bahwa dunia gemerlap munafik ini tak pernah dipenuhi serbuk peri yang dipercaya membawa hidup abadi, melainkan pengap akan wabah dan penyakit yang menekan ledakan populasi. 

Masih begitu banyak penghuni standar kompetensi FK selain mereka yang sering dikutuk tanpa terbukti melakukan tindak pidana, padahal jika saja salah satu darinya berniat membelot malam ini, bisa jadi esok pagi kasur empuk sudah berganti dengan bangsal rumah sakit.

Sesederhana itu. Dan ya, yang paling tahu itu kamu,

Calon dokter masa depan yang masih senang mengembara  mencari jati diri,

Tak berhenti mengeluhkan perahu masa depan yang terus berlayar jauh ke ujung cakrawala.

FK itu tak sepahit kopi kental langganan supir truk ekspedisi, tak juga tak semanis madu Teje* yang sekarang kaya varian rasa. Dia asam manis ibarat rujak, dengan sensasi nano-nano yang sempurna jika memahami citarasa buah, kacang dan cabai yang berpadu epik ala takaran si mamang.

Tapi kalau sedari awal sudah tak menyukai buah, Itu urusan mu dengan selera, kenapa memilih ikut temanmu beli rujak dibanding makan batagor di alun-alun? 

Sudah kepalang jatuh untuk memilih, adalah rujak yang dimakan paksa atau malah terbuang ke tempat sampah. Ingin barter dengan es teh? Sayang sekali tidak ada mamang yang mau jualan terbeli tapi minta dikembalikan, kuah kacang tak semudah itu di urai kembali menjadi uang lima ribu setelah bercampur dengan potongan buah dan bekas liur mu.

Maka poin tantangan berkomitmen adalah tentang bagaimana pandangan terhadap FK mu yang sesempit kolong tempat tidur itu diperluas selebar kolong jembatan, tak apa mulai dari tempat yang kumuh dulu, siapa tahu ujung jembatannya adalah Tower of London tempat penyimpanan mahkota ratu Elizabeth.

Karena perjalanan yang dimulai dengan keikhlasan beserta garis finish yang pasti, akan membawamu menuju pulau impian. 

Meski diterpa badai topan ataupun kumpulan gagak yang curang merebut bekal perjalananmu, niscaya menyerah akan terasa lebih pahit dibanding terus melaju. Karena itu, jadikanlah dia alasan solid untuk menumpas habis rasa pengecut mu untuk terbang menyentuh langit.

Namun ingatlah untuk jangan pernah lupa menikmati setiap perhentian yang disinggahi dalam perjalananmu dengan sepenuh hati, karena disitu lah kau akan menemukan hal-hal yang lebih jauh lebih berharga dibanding ‘cetak dua huruf konsonan’ di depan nama yang kau cari.

Dari Andi Priscillia Alqodry,
Yang sedang ngalong ditumpas serdadu referat beserta antek-anteknya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar